Dua Susunan Pembuatan peluru atau mimis

Waktu ini saya tengah mengawali kesukaan saya dengan senapan angin, namun ada dikit dalam pikiran saya muncul satu pertanyaan. Mengapa sich bentuk mimis senapan angin itu tak bundar saja agar sama Seperti kelereng atau bulet panjang seperti peluru senjata api? Bahkan juga sebelum saya kenal senapan angin lebih jauh senantiasa serta membaca serta bertanya-tanya sesuai itu….?

Mimis senapan angin umumnya didesain dengan dua bentuk susunan yg dikombinasikan jadi satu ialah Susunan rok (skirt) dibagian belakang serta susunan kepala (head) dibagian depan. Serta ke-2 susunan ini di padukan jadi satu silinder yg lurus, serta bahkan juga dihimpun dengan bentuk silinder bikonkaf atau pinggang (waist) untuk pemisah bentuk yg disebut “diabolo” atau dua bola.

• Bagian rok mimis dibikin serupa satu klep penahan hawa. Klep ini bakal terjadi lebih baik waktu rok mimis mengembang pada laras, disaat mimis didorong masuk ke loading laras serta waktu hawa bertekanan memaksa dinding rok membuat cetakan bentuk sisi dalam laras. Klep yg terjadi ini bakal meredam hawa yg berekspansi cepat (pada senapan PCP) atau hawa yg menghimpit cepat (senapan springer) hingga dorongan yg dirasakan menggerakan mimis mengarah ujung laras. Rata-rata diameter rok rata-rata lebih lebar ketimbang diameter kepala mimis.

• Bagian kepala merupakan konsentrasi massa atau berat dari satu mimis. Tak seperti sisi rok yg berongga , sisi kepala dibuat lebih solid. Bahkan juga untuk design hidung kepala berwujud hollow poin sekalinya, konsentrasi berat mimis tetap lebih cenderung mengarah kepala. Lantaran Perihal ini begitu penting lantaran titik berat yg ada di muka bakal berikan konsistensi waktu mimis meluncur. Pinggang mimis didesain seperti waktu ini untuk berikan rintangan hawa (aerodynamic drag). Rintangan ini bakal berikan konsistensi saat mimis meluncur. Perihal ini disebut spek konsistensi mimis yg ke-2. Gabungan spek mimis ini sendiri membuat design mimis diabolo dengan cara alamiah konstan. Bahkan juga pada laras yg tak beralur (smooth bore), mimis bakal terbang dengan konstan.
Mimis sendiri didesain untuk melaju dibawah kecepatan nada (di permukaan laut kecepatan nada kira-kira 1096 fps). Masuk ruangan kecepatan nada (transonik, kira-kira 900 fps) atau diatas kecepatan nada (ultrasonik), maka dapat sebabkan masalah kestabilan. Dijelaskan kalau pada ruangan transonik, mimis bakal alami guncangan (tumbling), dimana mimis tak kan bergerak lurus namun mimis cuma berputar. Pinggang mimis yg menyempit sesungguhnya membuat saluran hawa turbulen disekitarnya serta sebabkan bantalan hawa (air cushion). Untuk saluran hawa laminar disekitarnya. Ekor dari mimis yg dibuat dari mimis ini yg bakal sebabkan rintangan aerodinamik (aerodynamic drag) ke-2 yg perlambat kecepatan mimis. Drag ini makin dihadapi jika ekor mimis makin panjang.

Di sini memperlihatkan saluran hawa pada mimis yg tak ditembakkan. Sebetulnya mimis yg ditembakkan bakal punyai deformitas karena kontak dengan sisi dalam laras serta condong bakal alami guncangan. Hingga selanjutnya pada ekor mimis bakal ada penambahan rintangan hawa.
Jika mimis diabolo dijelaskan dengan cara alamiah konstan, kenapa kita butuh laras yg beralur sich?
Lantaran mimis tidak sempat betul-betul dibikin dengan kostum. Dijelaskan mimis sendiri punyai ketidakstabilan yg dikarenakan titik berat mimis tak betul-betul ada di titik pusat panjangnya. Mimis dibikin melalui cara mencairkan bahan paduan logam lalu mendinginkannya. Proses ini sebabkan munculnya konsentrasi bahan yg tak rata serta bahkan juga gelembung hawa mikro pada bahan baku mimis. Belum pula masalah aerodinamika karena cacat produksi bahkan juga deformitas waktu mimis dimasukkan serta melaju tinggalkan laras. Laras sendiri juga sebabkan masalah aerodinamika yg sebabkan munculnya drag/selip pada mimis. Mengakibatkan sehabis mimis tinggalkan laras, mimis bakal berguncang tak teratur (wobbling/tumbling). Untuk menanggulangi perihal ini, pemberian style perputaran pada mimis bakal memberikan konsistensi dengan cara statik serta dinamik.

Laras beralur kali pertama dipakai pada senjata api. Lantaran bentuk proyektil yg dipakai senjata api tak punyai spek konsistensi yg dengan cara alamiah ada pada mimis senapan angin, jadi laras beralur bakal memberikan faedah paling besar pada proyektil senjata api.
Aliran (rifling) dari senapan sendiri berperan membuat putaran pada proyektil waktu melalui serta tinggalkan laras. Dijelaskan kalau dampak putaran pada proyektil bakal berikan konsistensi statik yg selanjutnya bakal menambah ketepatan. Analoginya pada suatu gasing yg berputar-putar! Pada kecepatan spesifik putaran ini bakal sebabkan gasing bisa berdiri tegak serta gasing ini tak kan jatuh saat kecepatan rotasinya cukuplah.
Jika bentuk simetris atau presisi , maka dapat berlangsung rotasi yg konstan dengan pertambahan kecepatan. Akan tetapi jika tak simetris yg dihadapi merupakan ketidakstabilan waktu berbutar, Pada proyektil yg terbang tinggalkan laras petunjuk ini disebut Preccision yg diakibatkan pergerakan Yawing (pergerakan bergetar kekanan serta ke kiri pada suatu benda). Pada proyektil, pojok pergerakan precession yg makin mengecil bersamaan dengan jarak yg ditempuh, dijelaskan proyektil itu konstan dengan cara dinamik.

Pada prinsipnya satu proyektil bisa dibikin konstan baik dengan cara statik atau dinamik dengan berikan kecepatan perputaran yg cukuplah.
Kecepatan perputaran/putaran proyektil ditetapkan oleh:
1. Twist rate (berapakah jarak dalam inchi (X) untuk satu putaran, dikatakan dengan 1:X. Contohnya 1:16, 1:20, atau 1:22) serta ditetapkan oleh
2. Kecepatan proyektil. Menjadi contoh perkara: satu laras dengan twist rate 1:16 yg berarti berputar-putar 1 kali tiap 16″ (atau tiap 1.33 feet) serta mimis yg punyai kecepatan 700 fps (feet per second) bermakna kita bakal mendapat putaran mimis sebesar 525 putaran per detik atau 31,509 rpm (perputaran per menit). Jikalau kecepatan linier mimis jadi 800 fps, jadi diperoleh kecepatan perputaran mimis jadi 36,009 rpm.
3. Kecepatan satu mimis sendiri tidak sempat konsisten saat mimis itu terbang. Sejenak sehabis mimis tinggalkan laras, kecepatan mimis itu langsung alami perlambatan atau deselerasi. Tingkat perlambatan mimis ini dimaksud pula sebagai Ballistic coefficient (BC). Dijelaskan kalau proyektil dengan nilai BC yg makin besar, jadi proyektil bakal makin aerodinamis. BC ini sangatlah ditetapkan oleh design kepala serta hidung mimis dimana profile hidung mimis yg rata (wadcutter) bakal sebabkan kehilangan kecepatan yg bertambah cepat. Dijelaskan kalau makin kecil nilai BC jadi satu proyektil bakal makin gampang dibelokkan angin.

Mengapa sich seseorang pakar membuat mimis atau peluru serumit itu?
Sisi rok mimis dibikin serupa satu klep penahan hawa. Klep ini bakal terjadi lebih baik waktu rok mimis mengembang pada laras, disaat mimis didorong masuk ke loading laras serta waktu hawa bertekanan memaksa dinding rok membuat cetakan bentuk sisi dalam laras. Klep yg terjadi ini bakal meredam hawa yg berekspansi cepat (pada senapan PCP) atau hawa yg menghimpit cepat (senapan springer) hingga dorongan yg dirasakan menggerakan mimis mengarah ujung laras. Rata-rata diameter rok rata-rata lebih lebar ketimbang diameter kepala mimis.
Sisi kepala merupakan konsentrasi massa atau berat dari satu mimis. Tak seperti sisi rok yg berongga, sisi kepala dibuat lebih solid. Bahkan juga untuk design hidung kepala berwujud hollow poin sekalinya, konsentrasi berat mimis tetap lebih cenderung mengarah kepala. Lantaran Perihal ini begitu penting lantaran titik berat yg ada di muka bakal berikan konsistensi waktu mimis meluncur. Pinggang mimis didesain seperti waktu ini untuk berikan rintangan hawa (aerodynamic drag). Rintangan ini bakal berikan konsistensi saat mimis meluncur. Perihal ini disebut spek konsistensi mimis yg ke-2. Gabungan spek mimis ini sendiri membuat design mimis diabolo dengan cara alamiah konstan. Bahkan juga pada laras yg tak beralur (smooth bore), mimis bakal terbang dengan konstan. Pinggang mimis sendiri punyai manfaat lain ialah untuk batasi kecepatan. Mimis sendiri didesain untuk melaju dibawah kecepatan nada (di permukaan laut kecepatan nada kira-kira 1096 fps). Masuk ruangan kecepatan nada (transonik, kira-kira 900 fps) atau diatas kecepatan nada (ultrasonik), maka dapat sebabkan masalah kestabilan. Dijelaskan kalau pada ruangan transonik, mimis bakal alami guncangan (tumbling), dimana mimis tak kan bergerak lurus namun mimis cuma berputar. Pinggang mimis yg menyempit sesungguhnya membuat saluran hawa turbulen disekitarnya serta sebabkan bantalan hawa (air cushion). Untuk saluran hawa laminar disekitarnya. Ekor dari mimis yg dibuat dari mimis ini yg bakal sebabkan rintangan aerodinamik (aerodynamic drag) ke-2 yg perlambat kecepatan mimis. Drag ini makin dihadapi jika ekor mimis makin panjang.
Saat ini saya bakal kasih tahu bagaimana sich metode membuat peluru itu?
Garis besarnya, membuat peluru kaliber kecil dari kaliber 5,56 mm sampai 12,7 mm itu terdiri jadi tiga sisi, ialah pembuatan selongsong, pembuatan pelor, serta assembling atau penyelesaian.
Untuk pembuatan selongsong, bahan baku yg bakal dipakai merupakan berwujud kuningan lalu pipa kuningan tersebut dipotong sesuai dengan diameter serta panjangnya. Contohnya untuk peluru 5,56 X 45 berarti diameternya 5,56 mm serta panjangnya 45 mm.
Dibagian lain, pelor dibuat serta dibuat. Pelor itu merupakan sisi runcing dari peluru. Bila ditembakan pelor ini dia yg melejit ke arah, dan selongsong bakal dibuang dari sisi samping senjata.
Sebelum masuk ke sisi assembling atau penyelesaian, selongsong atau pelor dicheck dengan cara manual. Bila nyata-nyatanya ada yg cacat jadi dipisahkan. Dan yg lulus dimasukan ke ruangan assembling.
Di ruangan assembling ini dia selongsong di isi propelen atau bubuk mesiu, selanjutnya dihimpun dengan pelornya. Jadilah peluru tajam. Di ruang ini suhu serta kelembaban mesti terbangun. Hp atau camera gak diizinkan masuk.
Yg unik, peluru-peluru ini di taruh dalam ember atau kotak kayu seperti produksi baut saja. Walau sebenarnya ini dia salah satunya perihal yg memastikan kemenangan dalam peperangan.

Grafik Pertalian nilai BC dengan Pergesekan Karena Kecepatan Angin. Dijelaskan kalau mimis dengan profile hidung wadcutter punyai ketepatan terpilih dibawah 20 mtr.. Dan profile hidung dome bisa melewati jarak 20 mtr.. Perihal ini terjalin dengan BC serta kecepatan perputaran yg dirasakannya. Bagaimana kecepatan putaran serta pengaruhnya pada ketepatan udah ada yg mengujinya. Ada data detil pada senapan angin yg menarik yg saya mengambil dari website punya Tom Gaylord. Pada pengujian ini beliau memanfaatkan senapan yg sama (Airforce Talon SS) dengan 3 laras yg berlainan twist rate-nya (1:12, 1:16 serta 1:22). Pada dua mimis yg dipakai, semua memperlihatkan tren penambahan ketepatan dengan kecepatan perputaran yg bertambah.

Efek Twist Rate pada Kecepatan. Makin cepat putaran mimis (diperlihatkan dengan makin kecil twist rate) sebabkan kecepatan linier satu mimis makin kecil. Efek Twist Rate pada Ketepatan Mimis. Makin cepat putaran mimis di tingkat tertentuakan menambah ketepatan satu mimis terpenting pada jarak yg jauh.
Mimis senapan angin dapat dijelaskan dengan cara alamiah konstan lantaran design yg berwujud diabolo.
Pemberian style perputaran pada mimis bisa mendukung kestabilannya terpenting yg terkait karena masalah aerodinamis yg dihadapi mimis serta pada jarak tembak yg jauh.
Kecepatan perputaran dikuasai oleh twist rate laras serta kecepatan mimis.

RafiUncategorized
Dua Susunan Pembuatan peluru atau mimis Waktu ini saya tengah mengawali kesukaan saya dengan senapan angin, namun ada dikit dalam pikiran saya muncul satu pertanyaan. Mengapa sich bentuk mimis senapan angin itu tak bundar saja agar sama Seperti kelereng atau bulet panjang seperti peluru senjata api? Bahkan juga sebelum saya...